Salah satu periode
dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan
segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan
masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. (Konopka,ndalam
Pikunas 1976; Kaczman & Riva, 1996 ). Erikson (Adams & Gullotta,
1983: 36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan
masa berkembangnya identity. Identity merupakan Vocal Point dari pengalaman remaja karena semua krisis normatif
yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan idenititas
diri. Erikson memandang pengalaman remaja berada pada keadaan
moratorium yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan
dirinya untuk masa depan dan mampu menjawab pertanyaan siapa saya?(who am I) Kegagalan remaja untuk
mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan
dirinya.
Lalu apa yang ada
didalam benak anda ketika mendengar kata “Bullying”
? Penindasan? Kriminalitas? Menyakiti?
Menurut KBBI bully
adalah perundungan (menggangu; mengusik
terus menerus)
Olweus (1993 dalam
Anesty 2009) memparkan tindakan bully merupakan
perilaku negatif ,contoh dari tindakan bullying dapat berupa:
1. Mengatakan hal yang
tidak menyenangkan atau menanggil seseorang dengan julukan yang buruk
2. mengabaikan atau
mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu tujuan.
3. Memukul, menendang ,
menjegal atau menyakiti perasaan orang lain secara fisik dan sengaja
4. Mengatakan kebohoagn
atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau membuat siswa lain tidak
menyukai sesorang dan hal-hal semacamnya.
Banyaknya kenakalan
remaja yang terjadi di Indonesia khusunya bullying merupakan salah satu
tindakan kriminalitas dikalangan remaja.
Banyaknya faktor-faktor yang memicu terjadinya bullying salah satunya
adalah adanya fenomena BLAST. Apa sajakah itu BLAST?
Bored,
atau kebosanan biasa terjadi pada remaja yang tidak memiliki cukup aktivitas
yang positif. Hal ini bisa terjadi karena orang tua tidak mengembangkan passion
anak sejak dini sehingga saat remaja anak tidak memiliki aktivitas yang postif
dan susah mengenali rasa identitasnya. Pengembangan potensi ini merupakan
tanggung jawab orang tua dimana mereka harus mengajarkan kepada anak anak sejak
dini tentang banyak hal sehingga saat remaja anak memiliki pilihan tepat
mengenai passion yang mereka tekuni saat remaja. Tujuan dari pemberian
informasi pengembangan potensi sejak dini adalah agar saat remaja bahkan dewasa
anak mampu mengenali diri sendiri. Kegagalan remaja dalam mengembangkan
identity akan berdampak pada perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas atau menutup diri dari
masyarakat. Mengembangkan potensi diri (passion)
merupakan sebuah investasi yang nyata untuk masa depan yang sukses.
Lonley,
atau kesepian merupakan hal nyata yang dialami oleh para remaja hal ini terjadi
pada remaja yang kurang mendapat perhatian dari keluarga, orang tua yang sibuk
bekerja, kematian salah satu atau kedua orang tua, kedua orang tua yang
bercerai atau berpisah (divorce),
hubungan orang tua yang tidak baik (poor
marriage) serta hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik (poor parent-child relationship).
Masalah disfungsional keluarga ternyata akan memberikan dampak yang kurang baik
terhadap kepribadian anak. McDermott, Morrison, Offord, dk.; Sugar,
Westman & Kalter(Adam & Gullota, 1983: 253-254) yaitu bahwa
remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukan ciri-ciri: (a) berperilaku
nakal, (b) mengalami depresi, (c) melakukan hubungan seksual secara aktif, (d)
kecenderungan terhadap obat-obatan terlarang. Perasaan kesepian ini
mengakibatkan banyak remaja yang mencari perhatian orang disekitarnya dengan
cara tidak wajar yakni bullying.
Anger/Afraid
perasan marah atau ketakutan yang terjadi pada remaja karena lingkungan
disekitar. Gaya perlakuan orang tua (parenting
style) terhadap anak akan memicu timbul perilaku atau sikap yang
dimunculkan oleh anak misal authoritarian, sikap “acceptance” rendah, kontrol terhadap anak yang terlalu tinggi,
orang tua suka menghukum secara fisik, cenderung bersikap menolak, keras dan
emosional terhadap anak akan memicu perilaku anak menjadi penakut sehingga anak
akan melampiaskan perilaku tersebut . Freud mengemukakan bahwa mekanisme
pertahanan diri biasa terjadi dan dilakukan sebagian individu, terutama pada
remaja yang sedang mengalami pergulatan dahsyat dalam perkembangannya ke arah
dewasa. Anak yang tidak mampu mengendalikan diri akan sering mengunakan
mekanisme pertahanan displacement dimana
emosi-emosi yang tertahan akan diberikan ketujuan lain ke arah ide-ide,
objek-objek, atau orang lain daripada ke sumber primer emosi. Luapan emsoi
tersebut akan dialihkan kebada objek atau subjek lain hal ini menyebabkan
tindak bully marak terjadi pada kalangan remaja.
Stress
adalah
bentuk ketegangan dari fisik, psikis ,emosi maupun mental. Stress merupakan hal
yang wajar dialami semua manusia khusunya remaja. Akan tetapi stress menjadi
tidak wajar ketika seseorang melampiaskan bentuk emosi tersebut dengan hal yang
negatif atau bahkan bertindak menyakiti orang lain.
Tired,
atau kelelahan(fatigue) adalah suatu
kondisi yang memiliki tanda berkurangnya kapasitas yang dimiliki seseorang
untuk bekerja dan mengurangi efisensi prestasi dan biasanya hal ini disertai dengan
perasan letih dan lemah. Hal ini terjadi pada remaja karena adanya kebosanan
dalam melaksanakan pendidikan secara formal disekolah . Hurlock (1986: 322)
mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan
kepribadian anak baik dalam cara berfikir, besikap maupun berperilaku . Sekolah
merupakan lembaga pendidiakan formal yang secara sistematis melaksanakan
program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu
mengembangkan potensinya secara maksimal. Pendidikan disekolah yang terlalu
ketat menyebabkan banyak anak yang mengalami kelelahan belajar sehingga banyak
anak yang menunjukan perilaku menolak untuk sekolah dan mereka lebih memilih
melakukan hal-hal yang memberikan
kebahagian dan kebebasan untuk mereka sendiri.
Bully merupakan suatu
tindakan yang tidak mampu ditoleransi lagi, tindakan bully sendiri berdampak
negatif untuk orang lain. Bully sendiri dapat kita minimalisir dengan berbagai
cara misal memaksimalkan pola pengasuhan orang tua serta peningkatan kualitas
pendidikan formal disekolah hal ini dapat diwujudkan melalui beberapa cara
yakni menempatkan anak dalam posisi yang penting didalam rumah, mengembangkan
hubungan yang hangat dengan anak,
bersikap respek terhadap anak, serta mendorong anak menyatakan perasaan atau
pendapatnya. Pahami gejala BLAST supaya anak-anak kita tidak terjerat sebagai
pelaku dan korban bullying.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar