Minggu, 22 Juli 2018

BLAST Pada Remaja



Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. (Konopka,ndalam Pikunas 1976; Kaczman & Riva, 1996 ). Erikson (Adams & Gullotta, 1983: 36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa berkembangnya identity. Identity merupakan Vocal Point dari pengalaman remaja karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan idenititas diri. Erikson memandang pengalaman remaja berada pada keadaan moratorium yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa depan dan mampu menjawab pertanyaan siapa saya?(who am I) Kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.
Lalu apa yang ada didalam benak anda ketika mendengar kata “Bullying” ? Penindasan? Kriminalitas? Menyakiti?
Menurut KBBI bully adalah perundungan (menggangu; mengusik terus menerus)
Olweus (1993 dalam Anesty 2009) memparkan tindakan bully merupakan perilaku negatif ,contoh dari tindakan bullying dapat berupa:
1. Mengatakan hal yang tidak menyenangkan atau menanggil seseorang dengan julukan yang buruk
2. mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu tujuan.
3. Memukul, menendang , menjegal atau menyakiti perasaan orang lain secara fisik dan sengaja
4. Mengatakan kebohoagn atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau membuat siswa lain tidak menyukai sesorang dan hal-hal semacamnya.
Banyaknya kenakalan remaja yang terjadi di Indonesia khusunya bullying merupakan salah satu tindakan kriminalitas dikalangan remaja.  Banyaknya faktor-faktor yang memicu terjadinya bullying salah satunya adalah adanya fenomena BLAST. Apa sajakah itu BLAST?
Bored, atau kebosanan biasa terjadi pada remaja yang tidak memiliki cukup aktivitas yang positif. Hal ini bisa terjadi karena orang tua tidak mengembangkan passion anak sejak dini sehingga saat remaja anak tidak memiliki aktivitas yang postif dan susah mengenali rasa identitasnya. Pengembangan potensi ini merupakan tanggung jawab orang tua dimana mereka harus mengajarkan kepada anak anak sejak dini tentang banyak hal sehingga saat remaja anak memiliki pilihan tepat mengenai passion yang mereka tekuni saat remaja. Tujuan dari pemberian informasi pengembangan potensi sejak dini adalah agar saat remaja bahkan dewasa anak mampu mengenali diri sendiri. Kegagalan remaja dalam mengembangkan identity akan berdampak pada perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas atau menutup diri dari masyarakat. Mengembangkan potensi diri (passion) merupakan sebuah investasi yang nyata untuk masa depan yang sukses.

Lonley, atau kesepian merupakan hal nyata yang dialami oleh para remaja hal ini terjadi pada remaja yang kurang mendapat perhatian dari keluarga, orang tua yang sibuk bekerja, kematian salah satu atau kedua orang tua, kedua orang tua yang bercerai atau berpisah (divorce), hubungan orang tua yang tidak baik (poor marriage) serta hubungan orang tua dengan anak yang tidak baik (poor parent-child relationship). Masalah disfungsional keluarga ternyata akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap kepribadian anak. McDermott, Morrison, Offord, dk.; Sugar, Westman & Kalter(Adam & Gullota, 1983: 253-254) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukan ciri-ciri: (a) berperilaku nakal, (b) mengalami depresi, (c) melakukan hubungan seksual secara aktif, (d) kecenderungan terhadap obat-obatan terlarang. Perasaan kesepian ini mengakibatkan banyak remaja yang mencari perhatian orang disekitarnya dengan cara tidak wajar yakni bullying.
Anger/Afraid perasan marah atau ketakutan yang terjadi pada remaja karena lingkungan disekitar. Gaya perlakuan orang tua (parenting style) terhadap anak akan memicu timbul perilaku atau sikap yang dimunculkan oleh anak misal authoritarian, sikap “acceptance” rendah, kontrol terhadap anak yang terlalu tinggi, orang tua suka menghukum secara fisik, cenderung bersikap menolak, keras dan emosional terhadap anak akan memicu perilaku anak menjadi penakut sehingga anak akan melampiaskan perilaku tersebut . Freud mengemukakan bahwa mekanisme pertahanan diri biasa terjadi dan dilakukan sebagian individu, terutama pada remaja yang sedang mengalami pergulatan dahsyat dalam perkembangannya ke arah dewasa. Anak yang tidak mampu mengendalikan diri akan sering mengunakan mekanisme pertahanan displacement dimana emosi-emosi yang tertahan akan diberikan ketujuan lain ke arah ide-ide, objek-objek, atau orang lain daripada ke sumber primer emosi. Luapan emsoi tersebut akan dialihkan kebada objek atau subjek lain hal ini menyebabkan tindak bully marak terjadi pada kalangan remaja.
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis ,emosi maupun mental. Stress merupakan hal yang wajar dialami semua manusia khusunya remaja. Akan tetapi stress menjadi tidak wajar ketika seseorang melampiaskan bentuk emosi tersebut dengan hal yang negatif atau bahkan bertindak menyakiti orang lain.
Tired, atau kelelahan(fatigue) adalah suatu kondisi yang memiliki tanda berkurangnya kapasitas yang dimiliki seseorang untuk bekerja dan mengurangi efisensi prestasi dan biasanya hal ini disertai dengan perasan letih dan lemah. Hal ini terjadi pada remaja karena adanya kebosanan dalam melaksanakan pendidikan secara formal disekolah . Hurlock (1986: 322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berfikir, besikap maupun berperilaku . Sekolah merupakan lembaga pendidiakan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Pendidikan disekolah yang terlalu ketat menyebabkan banyak anak yang mengalami kelelahan belajar sehingga banyak anak yang menunjukan perilaku menolak untuk sekolah dan mereka lebih memilih melakukan  hal-hal yang memberikan kebahagian dan kebebasan untuk mereka sendiri.
Bully merupakan suatu tindakan yang tidak mampu ditoleransi lagi, tindakan bully sendiri berdampak negatif untuk orang lain. Bully sendiri dapat kita minimalisir dengan berbagai cara misal memaksimalkan pola pengasuhan orang tua serta peningkatan kualitas pendidikan formal disekolah hal ini dapat diwujudkan melalui beberapa cara yakni menempatkan anak dalam posisi yang penting didalam rumah, mengembangkan hubungan yang hangat  dengan anak, bersikap respek terhadap anak, serta mendorong anak menyatakan perasaan atau pendapatnya. Pahami gejala BLAST supaya anak-anak kita tidak terjerat sebagai pelaku dan korban bullying.